Mora’akeke, Ritual Minta Hujan Suku Kaili di Sulteng

Musim kemarau yang berkepanjangan melanda Indonesia selama beberapa bulan terakhir ini membuat beberapa daerah mengalami kekeringan. Mulai dari gagal panen sampai kebakaran hutan pun menjadi akibatnya. Banyak cara dan usaha yang sudah dilakukan, mulai dari bantuan pemerintah, ritual secara agama dan budaya pun sudah dilakukan.

Kemarau

Salah satu daerah yang terkena dampak musim kemarau di Sulawesi Tengah, tepatnya di lima desa Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi mengalami kekeringan. Para tetua adat di Kabupaten Sigi pun ikut turun tangan dengan melakukan ritual adat minta hujan atau yang biasa disebut Mora’akeke.

Lima desa di Kecamatan Sigi Biromaru tersebut adalah Oloboju, Bora, Sidera, Soulove dan Vatunonju.

Mora’akeke merupakan ritual yang bertujuan untuk memohon kepada Tuhan agar meredupkan sinar matahari yang menyebabkan kemarau panjang sekaligus menambah deras air sungai Vuno yang mengering. Banyak persiapan dan perlengkapan yang dilakukan dalam ritual Mora’akeke. Mulai dari Topogimba, Menyembelih tiga ekor kambing, babi dan anjing, serta mempersiapkan Bayaha dan Vunja.

Topogimba ini merupakan dua orang penabuh gendang. Mereka diperlukan sebagai pertanda prosesi ritual Mora’akeke dimulai. Setelahnya, tiga ekor kambing akan disembelih di pinggir Sungai Vuno, para tetua adat akan menghanyutkan darah ketiga hewan tersebut sebgai persembahan untuk Nteka (penguasa sungai). Daging kambing yang disembelih tadi akan dimasak oleh warga sebagai rasa syukur atas terselenggaranya ritual adat ini.

Selanjutnya yaitu menyembelih babi dan anjing di atas batang pisang dengan menghadap ke sungai atau yang disebut Mora’abinangga. Anjing dan babi yang disembelih harus yang belum berusia satu tahun dan babi yang disembelih harus mengeluarkan suara jika mau diambil darahnya.

“Adatnya memang begitu. Kalau anjing harus dipotong putus diatas batang pisang dengan menghadap ke sungai. Kalau babi dipotong cuma tidak sampai putus hanya diambil darahnya dan suaranya.Ini menandakan bahwa adat untuk permintaan dari orang-orang tua ini sudah bisa dikabulkan semua,” Ujar Husni yang merupakan salah satu tetua adat setempat.

Aco, Bayaha 2015

Aco, Bayaha 2015

Ritual yang sudah dilakukan turun temurun itu selalu dipimpin seorang bayaha atau laki-laki yang berdandan seperti perempuan, yang juga keturunan bayaha sebelumnya dan kali ini adalah giliran Aco. Dengan mengenakan pakaian adat Kaili berwarna kuning dan hijau, Aco bersama dua perempuan paruh baya atau biasa disebut makatoko ka’ada mulai mengelilingi pohon Vunja.

Pohon Vunja

Pohon Vunja

Vunja ini merupakan pohon buatan, yang disusun khusus untuk adat seperti ini. Pohon vunja itu kemudian ditancapkan di tanah dan selanjutnya dihiasi dengan janur kuning dan digelantungi beberapa buah ketupat yang sudah dimasak sebelumnya.

Selain itu sesaji berupa nasi putih, pisang rebus, lombok mentah dan ayam bakar yang disusun di atas selembar daun pisang dijejer di depan pohon vunja. Aneka sesajian berupa sebungkus rokok, kapur sirih dan daun sirih juga melengkapi prosesi adat ini. Kemudian, mulailah mereka memutari pohon Vunja dengan terus diiringi tabuhan gimba. Tabuhan gimba semakin cepat, ketiganya terus berputar mengitari pohon Vunja hingga salah satu makatoko ka’ada kemasukan roh dan kemudian jatuh. Gimba pun berhenti ditabuh.

Bayaha dan Mako

Bayaha dan Makatoko ka’ada Menari di Pohon Vunja

Itulah ritual adat Suku Kaili, Mora’akeke sebagai usaha mereka untuk menghentikan hujan. Budaya Indonesia yang seperti ini masih banyak bisa kita jumpai di daerah lain yang merupakan salah satu nilai budaya. Lepas dari acara ritual tersebut dan mencoba untuk menghargai kepercayaan satu sama lain, kebudayaan seperti ini patut kita lestarikan.

Tags: Budaya Sulawesi Tengah Mora’akeke Ritual Hujan Ritual Minta Hujan

Related Post "Mora’akeke, Ritual Minta Hujan Suku Kaili di Sulteng"

RM Dorodjatun, PNS Pertama Indonesia yang Patut Diteladani
Pegawai Negeri Sipil atau yang biasa disebut
Yuk Kenalan dengan Enny Arrow, Si Ratu Erotika Indonesia
Enny Arrow, nama ini pernah populer di
13 Uang Logam Indonesia yang Mengandung Emas
Beberapa tahun silam, bahkan sampai saat ini
6 Makanan Pedas Indonesia Tahun 2017 Paling Viral
Tak terelakkan lagi jika Indonesia sangat terkenal

Leave a reply "Mora’akeke, Ritual Minta Hujan Suku Kaili di Sulteng"