Ketika Mesin di Manusiakan dan Manusia di Mesinkan

Sedih, terkejut, marah atau eskpresi apapun yang anda rasakan ketika membaca judul diatas bukanlah menjadi suatu acuan untuk mencari pembenaran. Miris memang jika anda membaca judul tersebut. Perubahan yang terjadi di jaman pesatnya teknologi ini akan selalu ada dampaknya. Dan dampaknya akan selalu ada yang “dikorbankan” dan “diuntungkan”. Yang dikorbankan dan diuntungkan itu bisa jadi Anda dan saya sendiri. Pendeknya, siapa saja berpotensi menjadi korban dan penangguk keuntungan dari perubahan zaman.

Terkait perubahan zaman ini, sepertinya kita semua harus mulai belajar mengiyakan segala hal yang selama ini terkesan mustahil terjadi. Apa yang dulu hanya sekedar science fiction dalam film-film dan buku-buku, tampaknya satu per satu mulai bermunculan menjadi nyata. Coba simak, semua yang dirisalahkan dalam film-film Hollywood, semisal Star Wars, The Matrix, Terminator, serial televisi Knight Rider, dan buku-buku sejenisnya mulai tercipta, sekurang-kurangnya sedang dalam proses penciptaan. Nubuat yang mengatakan mesin akan mengambil alih peran manusia dalam banyak hal sudah terpampang di depan mata.



Apa konsekuensinya? Tentu manusia harus berbenah, beradaptasi, dan memperkuat diri. Sebab, persaingan terjadi bukan hanya dengan sesama manusia. Bukan dengan pekerja-pekerja dalam negeri dan asing, akan tetapi dengan mesin sebagai kompetitor baru. Karena itu, manusia harus mampu berpikir dan bertindak lebih kreatif dan inovatif dibanding mesin-mesin tersebut.

Pada 25 Oktober 2017, Putra mahkota Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Muhammad bin Salman, dalam ajang Future Investment Initiative yang berlangsung di negaranya memberikan pidato fenomenal yang mengejutkan dunia. Isi pidato bercerita tentang visi-misi Kerajaan Arab Saudi di masa depan ditambah dengan transformasi ekonomi dan sosial negaranya. Singkatnya, Arab Saudi siap untuk terbuka dalam segala hal menyikapi perkembangan dunia yang begitu dinamis dan cepat. Tidak lagi tertutup rapat, tapi lebih moderat.

Salah satu wujud keterbukaan fenomenal itu, selain peluncuran mega proyek kota masa depan Neom dan bakal bebasnya para wanita di sana mengendarai mobil, menonton pertandingan olahraga, dan bioskop, adalah pemberian status kewarganegaraan bagi sebuah robot artificial intelligence (AI) . Sophia sebuah robot humanoid wanita cerdas besutan David Hanson dari Hanson Robotics.

Robot Humanoid China

Robot Humanoid China

Hal ini bisa jadi awal legalisasi kewarganegaraan robot pertama di dunia, sekaligus era dimulainya “persaingan” manusia dengan robot. Sophia memiliki kecerdasan dan ekspresi manusia yang baik, dan akan terus disempurnakan di masa depan. Di beberapa negara lain, seperti jepang dan china, pembuatan robot humanoid seperti ini sudah ada. Terlepas dari diciptakannya robot humanoid dengan tujuan baik, manusia tetap harus memetik pelajaran dari peristiwa ini.

Beralih kedalam negeri, elektronifikasi penjaga pintu tol yang tengah digaungkan pemerintah, misalnya, adalah bentuk nyata dari otomatisasi industri dan kehidupan. Selain penjaga pintu tol, sebagaimana dikatakan oleh Martin Ford, futuris dan pengarang buku Rise of the Robots: Technology and the Threat of a Jobless Future, pekerjaan sebagai telemarketer, pustakawan, resepsionis, sales, dan berbagai pekerjaan yang memiliki rutinitas yang sama, dan berulang-ulang berpotensi besar digantikan oleh robot. Bahkan, rilis terbaru McKinsey Global Institute memprediksi tidak kurang dari 50 persen pekerjaan yang sekarang ada bisa diotomatisasi pada tahun 2055, dan mesin akan mengambil alih 30 persen tugas manusia dari sekitar 60 persen pekerjaan.

Sophia adalah permulaan, bukan akhir dari petualangan homo sapiens di muka bumi. Sophia bisa jadi embrio sapiens menjadi Homo Deus, makhluk yang mengklaim dirinya sebagai manusia Tuhan. Makhluk yang memunyai kuasa super atas makhluk lain. Makhluk yang boleh jadi merupakan integritas antara manusia dan mesin. Dan makhluk ini adalah kita di masa depan.

Tantangannya adalah bilakah kita memang benar-benar memiliki kuasa atas apa yang kita ciptakan? Atau jangan-jangan kita akan mengalami apa yang kita tonton di film Terminator? Hal ini menjadi penting, sebab Sophia pernah berujar dia akan melenyapkan manusia!

Tags: Intermezzo Mesin Robot Robot Humanoid

author
Author: 

Related Post "Ketika Mesin di Manusiakan dan Manusia di Mesinkan"

Bocah 9 Tahun Lamar Kerja di NASA, Ini Balasannya
Pada bulan Juli 2017 lalu, Badan Penerbangan
Bayi Tabung Tak Sesuai, Dokter Ini Dituntut Rp 35 Milyar
Presentase keberhasilan dalam setiap hal yang dilakukan
Bendi, Sayuran Khas Sejuta Manfaat Bagi Penderita Diabetes
"Empat sehat lima sempurna". Salah satu menyeimbangkan

Leave a reply "Ketika Mesin di Manusiakan dan Manusia di Mesinkan"